Saturday, September 15, 2012

Pengelolaan Air Bersih Agar Memperhatikan Lingkungan

Khalid Adam 

21040112130059
Proyek pengolahan air bersih dengan teknologi ultrafiltrasi yang dicanangkan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Jaya, diminta tetap memperhatikan dampak lingkungan dari pekerjaan tersebut. Sebab, dari proyek tersebut akan menyisakan limbah yang dikhawatirkan justru akan mengotori lingkungan. Kepala Bidang Penegakan Hukum Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta, Ridwan Panjaitan mengatakan, pengelolaan limbah proyek, menjadi hal yang harus diperhatikan. Sumber air yang digunakan pada proyek tersebut adalah air kotor yang diambil dari empat sumber yakni Kanal Banjir Barat (KBB), Cengkareng Drain, Kali Krukut, dan Kali Pesanggrahan. “Air kotor diolah agar menjadi air bersih, tentu akan menyisakan limbah. Air yang diambil dari sungai akan menghasilkan banyak lumpur. Kita akan pertanyakan, lumpurnya akan digunakan untuk apa? Kalau tidak bisa dimanfaatkan, akan dibuang ke mana? Apakah akan dibuang ke sungai lagi? Percuma dong kalau seperti itu,” kata Ridwan, Senin (10/9). Menurutnya, analisa mengenai dampak lingkungan (Amdal) proyek itu baru dibahas satu kali. Hasilnya telah diserahkan konsultan PDAM Jaya. Dari pembahasan tersebut muncul banyak masukan dan beberapa perbaikan yang harus dilakukan PDAM Jaya. Namun, hasil perbaikan tersebut belum diserahkan ke BPLHD hingga saat ini. “Pembahasan Amdal proyek ultrafiltrasi ini sudah dilakukan sekitar satu bulan lalu. Seharusnya proses perbaikan Amdal sudah diserahkan sejak dua pekan lalu sesuai janji mereka. Sebab, pembahasan Amdal membutuhkan waktu 6 bulan. Kalau belum diserahkan, kita tidak tahu kapan Amdal akan diterbitkan. Semua tergantung konsultan PDAM Jaya,” jelasnya. Dalam Amdal, kata Ridwan, PDAM Jaya belum menyertakan tempat pembuangan lumpur untuk menampung lumpur dari air sungai yang diproses menjadi air baku. Diharapkan lumpur sisa limbah proyek dimanfaatkan untuk hal yang berguna. Selain itu, harus diperhatikan juga kandungan bahan kimia dalam limbah. Saat ini, pembangunan instalasi ultrafiltrasi tersebut telah mengantongi Surat Izin Penggunaan Air (SIPA) dari Kementerian Pekerjaan Umum. Bila Amdal dari BPLHD sudah dikeluarkan, lelang investasi proyek itu akan dilakukan pada tahun ini juga. Direktur Utama PDAM Jaya, Sri Widayanto Kaderi mengatakan, Pemprov DKI menginginkan kebutuhan air bersih tetap berjalan dengan lancar meski saat musim kemarau terjadi cukup panjang. Agar hal itu terwujud, harus dibangun tempat pengolahan air bersih tersendiri sehingga tidak lagi menggantungkan kebutuhan air baku hanya pada waduk Jatiluhur saja. “Instalasi pengolahan air bersih teknik ultrafiltrasi ini akan mengolah air kali menjadi air bersih yang dibutuhkan warga Jakarta. kami sedang memprogramkan teknik membran ultrafiltrasi di Jembatan besi,” kata Sri. Ia mengaku SIPA yang tak kunjung dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, akhirnya sudah dikeluarkan, sehingga pembahasan Amdal bisa dilakukan. Dikatakan Sri, pekan ini seharusnya Amdal sudah bisa dikeluarkan oleh BPLHD, sebab perbaikan sudah dilakukan dua pekan lalu. “Kita sudah melaksanakan sidang dengan komisi Amdal. Perbaikan sudah dilakukan, tinggal menunggu koreksi kembali untuk Amdalnya. Mudah-mudahan tidak ada koreksi lagi. Kalau Amdal sudah keluar, tender bisa dilakukan tahun ini dengan total investasi sebesar Rp 150 miliar," tandasnya. Sumber http://www.beritajakarta.com/beta/home/read/51256/Pengolahan-Air-Bersih-Agar-Memperhatikan-Lingkungan Critical Review Sebenarnya, untuk mendapatkan air bersih yang berlimpah, baik saat musim hujan maupun pada saat musim kemarau, dapat di raih dari air sungai, namun hampir seluruh sungai di kota Jakarta sangat kotor dan banyak mengandung limbah, kenapa air di sungai bisa kotor atau tidak jernih?, hal ini di sebabkan oleh warga Jakarta sendiri membuang sampah ke sungai sehingga menyebabkan air tersebut menjadi kotor dan berlimbah, dan menyebabkan banjir dengan air yang kotor saat musim hujan dan kekeringan saat kemarau. Hal ini dapat di atasi pemerintah dengan menyediakan tempat sampah yang lebih banyak dan mengajak warga Jakarta sendiri untuk menjaga kebersihan lingkungan, dan juga menyediakan tempat pembuangan akhir yang di fasilitasi dengan pengolahannya, sehingga sampah tidak menumpuk, dan menyebabkan penyakit baru berdatangan. Masalah seperti sungai kotor ini sebaiknya dibersihkan secara manual, bukan dengan cara menambahkan zat-zat kimia yang hanya akan menimbulkan limbah baru. Membersihkan secara manual, dengan cara turun langsung ke sungai, bisa dengan meminta dukungan atau bantuan langsung oleh warga sekitar yang di sponsori oleh perusahaan-perusahaan, baik BMUN maupun BUMS, atau mengajak para investor untuk berinvestai merawat sungai dengan timbal balik mereka mendapat keuntungan dengan cara menjadikan sungai sebagai sarana jalan tranportasi, tempat bermain, atau bahkan menjadi tempat makan yang romantis sehingga mendatangkan banyak pengungjung dan menghasilkan keuntungan secara ekonomi baik bagi masyarakat sekitar, investor, maupun pemerintah.

Purwokerto Menuju Kota Hijau

Tanaya Pinasthika
21040112130043

Berdasarkan artikel yang dimuat di Koran Harian Suara Merdeka tanggal 12 Agustus 2012 (http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/08/12/195645/Purwokerto-Menuju-Kota-Hijau)

Dalam artikel ini penulis membahas tentang perubahan dari sisi tata kota Kota Purwokerto, yang merupakan bagian dari Kabupaten Banyumas. Salah satu yang mudah dilihat adalah penambahan Ruang Terbuka Hijau (RTH), yang kini merupakan bagian dari gaya hidup masyarakat modern. Mengutip dari apa yang dikatakan oleh Kepala Dinas Cipta Karya Kebersihan dan Tata Ruang (DCKKTR) Banyumas, pihaknya akan terus berupaya memperluas RTH, yang awalnya hanya sekitar 9 % dari total luas wilayah perkotaan. Beberapa contohnya adalah program revitalisasi alun-alun, kemudian menginspirasi revitalisasi eks terminal lama. Pemkab Banyumas memutuskan lahan seluas 1,8 hektare itu disulap menjadi RTH. Hasilnya, tahun 2011 muncullah Taman Rekreasi Andhang Pangrenan (TRAP), yang terus tumbuh menjadi ikon baru dan pusat sosialisasi masyarakat Banyumas. Kepala DCKKTR Banyumas Andrie Soebandriyo menyebutkan, Banyumas kembali menambah dua RTH yang siap diresmikan 2013. Dalam artikel ini, penulis telah memaparkan penjelasan dengan cukup baik. Namun akan lebih baik supaya penulis menambahkan pengertian dari RTH (Ruang Terbuka Hijau). Sehingga jika pembaca membaca bagian introduksi maka pembaca akan lebih mendapatkan gambaran mengenai tulisan tersebut. Secara keseluruhan, dapat diambil beberapa simpulan dari artikel ini. Pertama, artikel ini dapat berdaya guna sebagai wawasan umum dan sasaran dari artikel ini tidak hanya untuk kelompok/ golongan tertentu, namun untuk masyarakat luas. Namun secara keseluruhan cara penyajian dan pembahasan dari artikel ini cukup bagus dan menarik.

Perbaikan Jalan Yang Kurang Optimal

FENDY ARDIANI PRADHANA
 21040112140033

Kabupaten Grobogan dengan ibukotanya di Kota Purwodadi dapat dikatakan terletak pada posisi silang, karena dilalui jalur jalan Semarang-Purwodadi-Blora, Solo-Purwodai-Blora, Solo-Purwodadi-Pati, Solo-Purwodai-Kudus, serta jalan-jalan lain yang menghubungkan Kabupaten Sragen, Boyolali, Salatiga, dan Demak. Melihat posisi strategis tersebut, perlu didukung dengan infrastuktur yang memadai, salah satu infrastuktur yang penting adalah infrastruktur jalan. Jaringan jalan sebagai salah satu prasarana infrastruktur merupakan komponen penting untuk menunjang pertumbuhan ekonomi. Sebagaimana diketahui, jaringan jalan di Kabupaten Grobogan kondisi fisik struktural maupun fungsional jalan masih belum mantap dalam mengakomodasi pergerakan orang dan barang. Permasalahan teknis, alam, maupun terbatasnya anggaran merupakan factor-faktor yang menjadi hambatan dalam peningkatan kualitas jalan yang lebih baik. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Grobogan menitikberatkan anggaran infrastruktur pada tahun 2012 untuk peningkatan kondisi jalan. Terdapat 247 (dua ratus empat puluh tujuh) Paket pekerjaan peningkatan jalan dan jembatan dan pemeliharaan rutin jalan/jembatan pada 6 (enam) UPTD Binamarga Kabupaten Grobogan yang akan dikerjakan pada tahun 2012. Disamping itu Pemprov. Jawa Tengah dengan kewenangannya yaitu penanganan ruas jalan provinsi akan menitikberatkan perbaikan serta peningkatan jalan di wilayah timur, khususnya di Kabupaten Grobogan dan Blora sepanjang 14,1 kilometer dengan konstruksi beton bertulang. Telah dialokasikan anggaran peningkatan jalan sebesar Rp 56,4 miliar di dua wilayah yang mengalami kerusakan parah tersebut. Adapun ruas jalan yang akan diperbaiki adalah sebagai berikut : binamarga.jatengprov.go.id CRITICAL REVIEW Dengan keadaan demikian jelas bahwa pemerintah telah memiliki niatan untuk memperbaiki system sarana yaitu jalan raya dengan menggelontorkan sejumlah dana untk proyek tersebut. Namun Saya pikir pembangunan tersebut belum optimal karena realisasi dari proyek tersebut belum sepenuhnya tercapai. Semisal kita ambil contoh jalan di daerah Godong menuju arah Purwodadi masih banyak ditemui kondisi jalan yang kurang layak, seperti jalan tidak rata, kurang penerangan, bahkan terakhir kali Saya Pergi ke Purwodadi terjadi kecelakaan yaitu mobil pribadi masuk ke parit yang dari jalan kira-kira sedalam 3 meter di karenakan jalan yang bergelombang kemudian tidak ada penerangan yang memadai dan tidak terdapat pembatas jalan. Selayaknya pemerintah bekerja secara optimal dalam menuntaskan permasalahan pembangunan di Kabupaten Grobogan. Jadi solusi utama yang dapat di lakukan oleh pemerintah Kabupaten Grobogan dalam perbaikan jalan ini ialah menyiapkan berbagai ahli dalam bidang tersebut, mengoptimalkan dana yang dikelurkan dan membuat rancangan pembangunan yang setransparasi mungkin sehingga sangat kecil peluang untuk terjadinya korupsi di proyek tersebut. Kesimpulannya adalah pembangunan jalan di daerah Kabupaten Grobogan sangat di perlukan karena jalan raya merupakan akses utama dalam transportasi dan berdampak pada perkembangan segala aspek seperti ekonomi, sosial dan lingkungan.

Alih Fungsi Lahan Penyebab Banjir Meluas


OCTASYA Y.D

2104011210120

 

“Semarang, Kompas - Derasnya alih fungsi lahan di kawasan hulu Kota Semarang, Jawa Tengah, menyebabkan banjir kiriman mengarah ke wilayah Semarang bagian barat seperti Mangkang dan Tugu. Kendati demikian, Pemerintah Kota Semarang gagal menghentikan alih fungsi lahan resapan air menjadi kawasan permukiman baru.

”Kondisi tersebut dikhawatirkan makin memperluas daerah yang terkena banjir,” kata anggota DPRD Kota Semarang, Wachid N, Senin (14/5), dalam diskusi Menepis Bencana Banjir di Kota Semarang, Jawa Tengah.”

Sumber: http://regional.kompas.com/read/2012/05/15/03373035/Alih.Fungsi.Lahan.Penyebab.Banjir.Meluas

Alih fungsi lahan di kawasan hulu Kota Semarang, Jawa Tengah, menyebabkan banjir kiriman mengarah ke wilayah Semarang bagian barat seperti Mangkang dan Tugu. Kendati demikian, Pemerintah Kota Semarang gagal menghentikan alih fungsi lahan resapan air menjadi kawasan permukiman baru.

Selama ini Pemkot Semarang belum memiliki masterplan (rencana induk) saluran air pengendali banjir. Tanpa masterplan, penanganan banjir tetap bersifat sporadis. Hasilnya tidak maksimal karena banjir bukan tertangani, tapi malah meluas.

Banjir kiriman akibat alih fungsi lahan menyebabkan genangan baru di tiga kelurahan, yakni Kelurahan Mangkang Kulon, Mangkang Wetan, dan Kelurahan Mangunharjo. Di daerah ini sebanyak 1.583 keluarga kerap kebanjiran.

Diduga salah satu penyebab terjadinya banjir diakibatkan karena banyak lahan resapan air dan kawasan penghijauan didaerah hulu menjadi pemukiman warga. Sehingga daerah tersebut dalam waktu sepuluh tahun kedepan, banjir semakin meluas.

Pemkot memperoleh bantuan pembiayaan dari JICA Jepang untuk membangun Waduk Jatibarang, normalisasi Kaligarang, dan pembangunan bantaran Kanal Banjir Barat senilai Rp 1,7 triliun. Proyek tersebut bagian dari upaya pengendalian banjir untuk kawasan Semarang Utara. Jika proyek ini rampung 2013, daerah tengah di bagian hilir yang selama ini kebanjiran dapat berkurang. Sedikitnya 100.000 keluarga bisa terbebas dari banjir kiriman.

Jadi, seharusnya pemerintah kota segera menyelesaikan rancangan masterplan drainase supaya pemanfaatan anggaran lebih efisien dan tepat sasaran. Dan juga, pemerintahan kota harus segera menghentikan alih fungsi lahan tersebut agar banjir di taun-taun brikutnya juga tidak meluas.

Kebanjiran juga dipicu dengan adanya pemukiman yang semakin banyak tetapi lahan untuk penyerapan air dan penghijaun semakin menipis. Seharusnya kita membuat semua penataan dikota ini seimbang. Banyak pemukiman penduduk karena semakin bertambahnya penduduk tetapi juga semakin bertambahnya ruang penghijaun. Jika tidak begitu bumi kita lama kelamaan akan semakin rusak dan lapisan ozon semakin menipis, mungkin suatu wilayah akan tenggelam karena banjir yang diterimanya itu dikarenakan lahan hijau yang semakin menipis.

Lalu, mengatasi banjir akibat rob, sejumlah polder sudah disiapkan. Selain polder, Semarang juga memerlukan 30 embung di daerah hulu dan pemkot memperoleh bantuan pembiayaan dari JICA Jepang untuk membangun Waduk Jatibarang, normalisasi Kaligarang, dan pembangunan bantaran Kanal Banjir Barat senilai Rp 1,7 triliun. Jika semua itu sudah terleasasikan dengan baik makan tahun 2013 banjir akan berkurang dan sedikitnya 100.000 keluarga bisa terbebas dari banjir kiriman tersebut.

Kita sebagai generasi penerus bangsa harus memperbaiki apa yang seharusnya diperbaiki dan menjaga apa yang sudah dijaga dengan baik oleh generasi sebelum-sebelumnya. Tidak hanya suatu Badan yang mengurus tentang permasalahan di kota. Tetapi, Badan-Banda tersebut juga butuh bantuan dari semua orang agar semua permasalahan di kota dapat hilang seiring dengan berjalannya waktu. Semoga juga dimasa mendatang sudah tidak ada permasalahan-permasalahan rumit di kota dan penduduk hidup sejahtera.




Friday, September 14, 2012

PKM

Capture Mahasiswa
D
I
S
U
S
U
N
OLEH

KELOMPOK 18               
v  FENDY ARDIANI PRADHANA        (21040112140033)
v  DAPOT ANDRI AGUSTINUS            (21040112140025)
v  KHALID ADAM                                       (21040112130059)
v  IRHAM ABIDURRAHMAN               (21040112120014)
v  LIDIA SIMANJUNTAK                         (21040112130023)
v  MILA WIJAYANTI                                 (21040112140129)
v  RAHMA WIDAYATI                              (21040112060054)
v  OCTASYA YUSNINDITA DEVI         (21040112140120)
v  TANAYA PINASTIKA                           (21040112130043)
v  RIKE

LATAR BELAKANG
Seperti yang kita ketahui dewasa ini di Universitas Diponegoro banyak sekali Mahasiswa yang berasal dari luar daerah Semarang dengan berbagai latar belakang sosial, ekonomi, agama, budaya, ras dll. Hal ini sangat berpengaruh pada proses menjalani kehidupan baru mereka sebaagi seorang mahasiswa. Salah satu dari berbagai faktor diatas ialah faktor ekonomi khususnya bagi para Mahasiswa Baru yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia.
Permasalahan ekonomi yang kami sangat sorot adalah permasalahan supply makanan atau konsumsi yang sesuai dengan persediaan dana mereka selama menjalani proses pembelajaran di Universitas Diponegoro. Seperti kita ketahui bahwa Mahasiswa Universistas Diponegoro berasal dari berbagai tingkatan ekonomi sehingga berbeda kuantitas perbekalan dana dari Orang Tua mereka. Oleh karena itu kami tergerak untuk membuat suatu terobosan baru dengan membuat suatu web yang berisikan list tempat makan serta harga makanannya yang selalu di-update tiap semesternya. selain daripada itu kami juga menyediakan layanan pengaturan keuangan yang sesuai dengan dana yang mereka miliki tanpa mengesampingkan permasalahan “Empat Sehat Lima Sempurna” sehingga gizi mereka tetap terpenuhi. Karena tanpa makanan “Empat Sehat Lima Sempurna” Mahasiswa tidak dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik.






PERUMUSAN MASALAH

Faktor ekonomi menjadi masalah terbesar bagi para Mahasiswa yang mengikuti jenjang pendidikan di Universitas. Bahkan tidak jarang Mahasiswa mengurangi porsi makan mereka dalam satu hari, yang harusnya tiga kali dalam sehari menjadi dua atau sekali bahkan sampai – sampai tidak makan sama sekali demi meminimalisir pengeluaran mereka. Karena sebagai seorang mahasiswa banyak kebutuhan yang harus dipenuhi selain mengkomsumsi makanan, seperti peralatan – perlatan yang mereka butuhkan demi kelancaran studi mereka. Hal ini tentunya membuat pikiran Mahasiswa terbebani.

1.        Apa itu Capture Mahasiswa?
2.      Bagaimana cara mahasiswa mendapatkan makanan yang sehat sesuai dengan kemampuan ekonominya?
3.      Mengapa  Capture Mahasiswa penting bagi Mahasiswa?
4.      Dimana Mahasiswa mendapatkan Capture Mahasiswa?
5.      Kapan Mahasiswa mulai dapat menggunakan Capture Mahasiswa?
6.      Siapa saja yang dapat menggunakan Capture Mahasiswa?






TUJUAN

Penulis merasa tertantang untuk mencoba membantu Mahasiswa melakukan kontrol keuangan terutama Mahasiswa baru yang masih buta akan lokasi – lokasi di daerah mereka kuliah. Selain daripada itu, kami melakukan  perintisan berwirausaha dengan membuat membership terhadap anggota yang mengikuti situs kami.













LUARAN YANG DIHARAPKAN

Mahasisawa dapat memanage keuangan mereka dengan baik tanpa mengesampingkan kesehatan dan kelancaran mereka mengikuti perkuliahan.














KEGUNAAN
Memberi informasi list tempat makanan serta harga sehingga lebih mempermudah Mahsiswa mencari tempat yang sesuai dengan kondisi perekonomian mereka masing – masing.














TINJAUAN PUSTAKA

















METODE PELAKSANAAN
                Metode pelaksanaan yang kami lakukan selama melakukan PKM ini antara lain:
1.        Melakukan survey ke berbagai Tempat Makan yang ada di Tembalang.
2.      Melakukan follow up dari berbagai Tempat Makan persemesternya.
3.      Melakukan pengklasifikasian data Makanan menurut kemampuan ekonomi.
4.      Membuka rekening di salah satu bank untuk keperluan pelaksanaan.













JADWAL KEGIATAN
1.       Minggu, 9 Semptember 2012
Pukul : 16.00-20.00
Hal : Menyusun kerangka PKM
2.       Senin, 11 september 2012
Pukul   : 19.00-20.00
                Hal         : ACC kakak Asuh









RANCANGAN BIAYA